Selasa, 04 Desember 2012

SEJARAH SINGKAT QURBAN


Syariat qurban dimulai dari peristiwa besar yang dialami nabi Ibrahim, yakni ketika para malaikat yang dipelopori oleh Jibril bertanya pada Allah: ya Allah, mengapa Kau member gelar khalilullah (kekasih Allah) kepada Ibrahim, padahal ia sibuk dengan kekayaan dan keluarganya? Dengan demikian, bagaimana mungkin ia pantas menjadi khalilullah? Allah menjawab: jangan kalian menilai secara lahiriah, tapi lihatlah hati dan amal baktinya. Karena tiada dihatinya rasa cinta selain kepada-Ku. Bila kalian ingin menguji, ujilah ia. Kemudian malaikat Jibril mengujinya, ternyata memang terbukti kekayaan dan keluarganya sedikitpun tidak membuatnya lalai dalam mengabdi kepada Allah. Kemudia Allah sendiri mengujinya dengan perintah menyembelih putranya (Ismail). Walaupun perintah tersebut hanya melalui mimpi tidur, dengan ketabahan, ketulusan dan tawakkal beliau menerima perintah tersebut, sebagaimana terungkap dalam surat As-Shaaffaat: 102-105.

Ketulusanya tampak dan keberaniannya untuk tetap melaksanakan qurban. Walaupun setan dan iblis selalu berusaha menggodanya, namun beliau malah melemparinya dengan batu-batu kecil, yang akhirnya termasuk dalalm prosesi pelaksanaan ibadah haji (lempar jumrah). Menyaksikan pengorbanan nabi Ibrahim, malaikat Jibril kagum seraya mengucapkan takbir, sehingga sekarang tertradisikan takbiran tersebut dan dikumandangkan setelah melaksanakan shalat ied adha sampai tanggal 13 Dzulhijah.
Tradisi qurban menurut catatan sejarah telah ada sejak masa pra Islam. Qurban dilakukan atas nama Tuhan dengan cara menyiramkan darah ke dinding ka’bah dan dagingnya dilelmpar kedepan pintu. Karena mereka beranggapan bahwa tuhan membutuhkannya. Sehingga ini terkesan mirip dengan acara-acara keagamaan lalinnya.

Namun dalam Islam, ibadah Qurban bukan hanya sekedar mengalirkan darah hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin, tetapi juga memiliki nilai ruhaniah yang sangat besar. Sebagaimana firman Allah “daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaan dan kamulah yang dapat mencapainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar